Kementerian PU Bangun 66 Sumur Bor untuk Pastikan Pasokan Air Bersih Berkualitas bagi Korban Bencana di Sumatera

Kementerian PU Bangun 66 Sumur Bor untuk Pastikan Pasokan Air Bersih Berkualitas bagi Korban Bencana di Sumatera

JAKARTA, 18 Januari 2026 – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus melakukan penanganan pascabencana dengan memprioritaskan penyediaan air baku di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sebanyak 66 titik sumur bor tengah dibangun untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh akses air bersih berkualitas yang memenuhi standar kesehatan.

Pembangunan ini
difokuskan pada area vital seperti fasilitas umum, fasilitas kesehatan,
perkantoran, sekolah, hingga kawasan hunian yang terdampak kerusakan
infrastruktur air akibat bencana.

Menteri
Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa proses pemulihan pascabencana
tidak semata-mata berfokus pada perbaikan fisik infrastruktur yang rusak. Lebih
dari itu, pemerintah menaruh perhatian serius pada pemenuhan kebutuhan dasar
masyarakat, khususnya ketersediaan air bersih.

“Ada 66 titik
lokasi pembuatan sumur bor air baku yang tersebar di 3 provinsi terdampak
sebagai support penyediaan air minum yang bersih
melalui SPAM kita,” ujar Menteri Dody.

Berdasarkan
data Kementerian PU per 15 Januari 2026, progres pembangunan sumur bor
menunjukkan perkembangan positif. Dari total 66 lokasi, sebanyak 8 lokasi telah
selesai dikerjakan dan langsung dimanfaatkan oleh masyarakat. Sementara itu, 57
lokasi lainnya masih dalam tahap proses pengeboran yang terus dikebut
pengerjaannya. Lokasi pembangunannya tersebar di titik-titik simpul pelayanan
publik, meliputi masjid, pasar, puskesmas, rumah sakit, perkantoran pemerintah,
sekolah, serta area permukiman warga.

Kementerian PU
menerapkan standar teknis tinggi dalam pembangunan infrastruktur ini untuk
menjamin keberlanjutan sumber air. Sumur bor yang dibangun merupakan jenis
sumur dalam (deep well) dengan kedalaman rata-rata sekitar 100 meter dan
diameter pipa lebih dari 4 inci.

Sumur ini
dirancang untuk mengambil air tanah dari lapisan akuifer terkekang maupun
semi-terkekang menggunakan metode pemboran teknis. Proses konstruksi juga
dilengkapi dengan uji logging dan pumping
test
 untuk memastikan debit
air yang dihasilkan stabil di angka lebih dari 2 liter per detik.

Guna mendukung
distribusi air yang optimal, setiap unit sumur bor dilengkapi dengan fasilitas
pendukung yang mumpuni, yaitu pompa submersible,
rumah tenaga listrik, reservoir atau toren penampung berkapasitas lebih dari
1.000 liter, dan hidran umum untuk akses warga.

Penentuan titik
kedalaman sumur tidak dilakukan berdasarkan survei geolistrik yang komprehensif
guna memastikan mutu sumber air. Hasilnya, standar kualitas air dari sumur bor
ini terbukti memenuhi parameter keamanan utama, yakni pH sekitar 7,1, kadar besi
di bawah 1 mg/l, serta tingkat kekeruhan di bawah 1.000 mg/l. Dengan kualitas
tersebut, air baku ini aman digunakan untuk kebutuhan dasar masyarakat dan
operasional fasilitas pelayanan publik.

Kementerian PU
memastikan seluruh pekerjaan dilaksanakan secara bertahap namun terintegrasi
dengan penanganan infrastruktur lainnya di wilayah terdampak. Koordinasi
intensif dengan pemerintah daerah dan instansi terkait terus dilakukan demi
mempercepat penyelesaian pekerjaan sesuai target waktu.

Melalui
pembangunan 66 sumur bor air baku ini, Kementerian PU berkomitmen penuh
mendukung pemulihan kehidupan masyarakat, sekaligus meningkatkan ketahanan
layanan air bersih sebagai bagian vital dari upaya rehabilitasi dan
rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera.

Program kerja ini
merupakan bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak – Berdampak” dalam menjalankan
ASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.

#SigapMembangunNegeriUntukRakyat

#SetahunBerdampak

Artikel ini juga tayang di VRITIMES