Berikanesia Lestari bersama Instellar dan para mitra lokal sukses menjalankan program inovasi ekonomi biru selama satu tahun di Pulau Belitung, yang didiseminasikan pada 14 Januari 2026. Program ini merevitalisasi kulong bekas tambang menjadi lokasi budidaya ikan nila bernutrisi, mengolah limbah ikan pasar menjadi pakan terjangkau, serta mendorong pengembangan produk UMKM berbasis perikanan. Melalui kolaborasi lintas sektor, inisiatif ini mampu menjawab tantangan lingkungan, memperkuat ekonomi lokal, sekaligus mendukung intervensi gizi bagi anak-anak malnutrisi dan stunting. Pendekatan ekonomi sirkular dan berbasis komunitas ini menunjukkan potensi untuk direplikasi di wilayah pesisir lainnya sebagai model pembangunan berkelanjutan.
Bangka Belitung, 14 Januari 2026
Changemakers dari Belitung yang tergabung dalam inisiatif Berikanesia Lestari, dengan dukungan dari Instellar, sukses menjalankan inovasi ekonomi biru selama satu tahun terakhir di Pulau Belitung. Melalui kolaborasi erat bersama pemerintah daerah, kelompok nelayan, petani tambak, kader kesehatan, dan masyarakat setempat, Berikanesia Lestari membagikan hasil, pembelajaran, serta praktik baik program dalam kegiatan Diseminasi Hasil Program Berikanesia Lestari.
Program ini menjadi contoh penerapan prinsip ekonomi sirkular di tingkat lokal dengan mereklamasi lahan bekas tambang (kulong) menjadi kolam budidaya ikan nila, mengolah limbah ikan dari pasar menjadi pakan ikan terjangkau, serta mendorong pengembangan produk UMKM berbasis perikanan. Pendekatan terintegrasi ini tidak hanya menjawab tantangan lingkungan, tetapi juga membuka peluang baru di bidang kesehatan masyarakat dan penguatan ekonomi lokal.
Selama satu tahun implementasi, Berikanesia Lestari berhasil memanfaatkan satu kulong bekas tambang sebagai lokasi percontohan budidaya ikan nila air tawar. Hasil budidaya tersebut dimanfaatkan untuk intervensi gizi berbasis protein ikan bagi anak-anak malnutrisi, sekaligus menjadi bahan baku bagi produk olahan UMKM lokal. Di sisi lain, limbah ikan dari aktivitas pasar nelayan diolah menjadi pakan ikan berkualitas, sehingga membantu menekan biaya produksi budidaya sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
“Program yang telah dijalankan telah menunjukkan hasil signifikan, yaitu satu lahan bekas tambang timah dapat direvitalisasi secara produktif menjadi lokasi budidaya ikan nila dengan menggunakan pakan yang diolah dari sisa ikan nelayan se-Kabupaten Belitung. 11,7 ton limbah ikan berhasil diselamatkan menjadi produk turunan 7 ton olahan tepung ikan dan 2,7 ton pelet ikan terjangkau. Kami berkolaborasi dengan 30 pengumpul limbah dan 50 petani ikan.” Ujar Ibnu Hasanuddin dalam sambutannya.
Pada sesi diskusi panel dan policy talk, perwakilan Berikanesia Lestari, Khodijah A Zahir, menyampaikan bahwa program ini menunjukkan potensi besar dari solusi berbasis komunitas yang terintegrasi. Dari hasil budidaya ikan tersebut, dikembangkan produk-produk turunan bernilai ekonomi, yaitu sagoo crackers, mie pandai, abon ikan, sambal lingkung, dan kerupuk kemplang, yang diproduksi melalui Rumah Produksi bersama komunitas lokal. Ikan nila juga dimanfaatkan sebagai makanan intervensi gizi bagi 87 anak dengan kondisi malnutrisi dan stunting di Desa Aik Seruk.
“Intervensi ini menunjukkan hasil yang positif, dengan 26% balita telah bebas stunting dan 21% balita berstatus gizi baik. Capaian ini menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis komunitas dapat menjawab tantangan lingkungan, kesehatan, dan ekonomi secara bersamaan,” ujar Khodijah.
Dari sisi mitra pendukung, Rizky Anugrah, Head of Impact-Driven Enterprise Advisory Instellar, menilai Berikanesia Lestari sebagai contoh keberhasilan inovasi lokal yang mampu diterjemahkan menjadi dampak nyata. Melalui program Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE), Instellar mendorong lahirnya solusi yang tidak berhenti pada gagasan, tetapi teruji di lapangan dan menjawab kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini, Berikanesia Lestari dipandang berhasil menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor dan pendekatan berbasis komunitas dapat menghasilkan model ekonomi biru yang berkelanjutan dan memiliki potensi untuk direplikasi di wilayah lain dengan tantangan serupa.
Wakil Bupati Belitung, Bapak Syamsir S.I.Kom, menyebutkan program ini sebagai titik balik pemanfaatan lahan bekas tambang yang membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperkuat perbaikan gizi anak. Pengolahan limbah ikan menjadi pakan budidaya dinilai menciptakan sistem ekonomi sirkular yang ramah lingkungan. Ia mendorong agar praktik baik ini dilanjutkan dan diintegrasikan dengan agenda pembangunan daerah hingga nasional agar dampaknya semakin luas dan berkelanjutan.
Berikanesia Lestari merupakan konsorsium dari tiga organisasi, yaitu Berikan Protein Initiative, Ikanesia, dan Selaras Muba Lestari. Inisiatif ini lahir dari program Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE) 3.0 di bawah binaan Instellar, yang berfokus pada penguatan kapasitas changemakers dalam mengembangkan solusi berkelanjutan melalui pendampingan, jejaring, dan kolaborasi lintas sektor.
Melalui kegiatan diseminasi ini, Berikanesia Lestari berharap praktik baik yang telah dijalankan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan di Pulau Belitung dan wilayah lainnya di pesisir Indonesia.
Artikel ini juga tayang di VRITIMES
