Kejar Target Nol Warga di Tenda Saat Ramadan, Menteri PU Dorong Percepatan Huntara di Aceh

ACEH TAMIANG, 21 Januari 2026 – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak bencana di Provinsi Aceh. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menargetkan seluruh warga terdampak sudah dapat menempati hunian yang layak dan tidak ada lagi yang tinggal di tenda pengungsian saat memasuki bulan suci Ramadan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Dody saat meninjau langsung
lokasi pembangunan Huntara di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang,
Selasa (20/1/2026). Saat ini, Kementerian PU tengah merampungkan tahap akhir
pembangunan huntara tersebut dengan progres fisik mencapai 98,75%.

“Kita dorong secepat-cepatnya agar segera selesai. Kita semua
bekerja keras supaya saat Ramadan, kalau bisa nol warga yang tinggal di tenda.
Kami ingin masyarakat bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan lebih tenang dan
maksimal,” ujar Menteri Dody.

Penyelesaian huntara sebelum Ramadan ini merupakan tindak lanjut
dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Kepala Negara menekankan bahwa
penanganan pascabencana tidak boleh hanya berfokus pada penyelesaian fisik
bangunan semata, namun juga harus menjamin rasa aman dan kenyamanan masyarakat,
khususnya dalam menjalankan ibadah.

“Itu sudah menjadi arah Bapak Presiden. Kita memberikan dukungan
penuh kepada masyarakat, khususnya di Aceh dan Sumatera Barat yang mayoritas
Muslim, agar saat Ramadan mereka bisa beribadah dengan lebih tenang, meskipun
dalam kondisi pascabencana,” tegas Menteri Dody.

Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang ini merupakan bagian dari
paket Penanganan Keadaan Darurat Pascabencana Aceh 1. Untuk mengejar target
waktu di tengah kondisi darurat, Kementerian PU menerapkan metode konstruksi
modular dengan sistem Modular Lite (MOLI). Teknologi ini
memungkinkan pembangunan dilakukan dengan cepat tanpa memerlukan alat berat.

Secara teknis, Huntara 1 di Aceh Tamiang berdiri di atas lahan
seluas 5.427 m² dengan total luas bangunan mencapai 2.052 m². Kompleks ini
terdiri dari 7 blok hunian yang mencakup 114 modul. Kapasitas huntara dirancang
untuk menampung 84 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 336 jiwa.

Guna menjamin kesehatan dan kenyamanan penghuni, kawasan huntara
dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, antara lain berupa 42 unit
Mandi Cuci Kakus (MCK), area komunal multifungsi dan area jemur, musala untuk
kegiatan ibadah, dan utilitas pendukung berupa genset dan toren air.

Kementerian PU juga memastikan ketersediaan sanitasi dan air
bersih yang memadai. Sumber air bersih diperoleh dari sumur bor yang disalurkan
melalui tandon, sementara pengolahan air kotor menggunakan sistem biotek. Untuk
pasokan listrik, kawasan ini telah terhubung dengan jaringan PLN.

Dengan rampungnya tahap akhir ini, huntara ditargetkan dapat
segera dimanfaatkan oleh warga terdampak bencana, sehingga pemulihan kehidupan
sosial dan ekonomi masyarakat setempat dapat berjalan lebih cepat.

Program kerja
ini merupakan bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak – Berdampak” dalam
menjalankan ASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.

#SigapMembangunNegeriUntukRakyat

#SetahunBerdampak

Artikel ini juga tayang di VRITIMES