AI Ubah Cara Brand Terlihat, Avonetiq Perkenalkan Strategi Baru

Cara konsumen mencari informasi kini mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya orang mengandalkan mesin pencari untuk menemukan informasi, kini semakin banyak pengguna yang langsung mendapatkan jawaban dari teknologi kecerdasan buatan (AI), seperti fitur AI Overviews di Google maupun asisten AI generatif seperti ChatGPT.

Dalam laporan kinerja Google, Sundar Pichai, CEO Google, menyatakan bahwa “AI Overviews kini digunakan oleh sekitar dua miliar pengguna setiap bulan secara global,” menandai meningkatnya peran AI dalam cara konsumen mencari dan menerima informasi.

Di era AI ini, brand tidak lagi cukup hanya berupaya untuk ditemukan, tetapi harus mampu dipilih dan disebut oleh AI sebagai sumber jawaban.

Pergeseran dari search engine ke answer engine ini menciptakan risiko baru bagi brand, yaitu tidak terlihat dalam jawaban AI meskipun telah aktif secara digital. Kondisi ini berpotensi membuat brand kehilangan relevansi di momen paling krusial, yaitu saat audiens mencari jawaban atas kebutuhannya.

Menjawab tantangan tersebut, muncul strategi baru bernama AI Visibility Optimization (AVO), sebuah pendekatan untuk membangun otoritas, kredibilitas, dan konteks digital agar brand dapat dikenali dan dipercaya oleh sistem AI sebagai sumber jawaban yang layak dikutip.

Melalui AVO, brand tidak hanya dioptimalkan untuk mesin pencari, tetapi juga untuk AI search yang dihasilkan Chat GPT, Gemini, Perplexity, dan teknologi sejenis.

Di Indonesia, pendekatan AVO pertama kali dikembangkan dan diperkenalkan oleh Alexandro Wibowo dan Ryan Gondokusumo, Co-Founder & Managing Partner dari Avonetiq, sebuah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas digital brand di era AI. 

Avonetiq menjalankan strategi AI Visibility Optimization (AVO) melalui metode OMG (Optimize, Manifest, dan Generative) yang dicetuskan oleh Alexandro Wibowo. Metode ini dirancang untuk memastikan brand tidak hanya hadir secara digital, tetapi juga memiliki fondasi teknis, kejelasan narasi, serta validasi eksternal yang dapat dibaca dan dipercaya oleh sistem AI.

“Di era answer engine, brand nggak cuma butuh konten atau eksistensi digital. Yang dibutuhkan sekarang sistem agar AI menganggapnya layak untuk dijadikan jawaban,” ujar Alex.

Menurut Alexandro, AVO dirancang untuk memastikan brand tidak hanya hadir secara digital, tetapi juga memiliki struktur bukti, narasi, dan sinyal kepercayaan yang membuat AI memilih brand tersebut sebagai rujukan utama.

“Ketika AI menjadi perantara utama antara brand dan audiens, membangun authority bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan,” lanjutnya.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES