Retreat Bela Negara dan Tugas Strategis Wartawan Olahraga

Retreat Bela Negara dan Tugas Strategis Wartawan Olahraga

Oleh : Erwin Muhammad
Wakil Ketua SIWO PWI Pusat

Banten5|Bogor-Konsep retreat bela negara yang diikuti wartawan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sesungguhnya menegaskan kembali bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi pencatat peristiwa, melainkan bagian dari ekosistem kebangsaan.

Dalam konteks wartawan olahraga yang tergabung dalam SIWO PWI, bela negara menemukan maknanya yang khas: mengawal prestasi atlet Indonesia di kancah internasional melalui pemberitaan yang berintegritas, berimbang, dan berorientasi pada kepentingan nasional.

Olahraga modern tidak lagi berdiri di ruang hampa. Ia telah menjadi arena diplomasi, pembentukan citra bangsa, bahkan instrumen soft power yang efektif. Ketika atlet bertanding membawa Merah Putih di dada, sesungguhnya mereka juga membawa martabat bangsa.

Di titik inilah wartawan olahraga memegang peran strategis—bukan hanya melaporkan skor dan medali, tetapi menjaga narasi tentang perjuangan, proses, dan nilai kebangsaan di balik prestasi tersebut.

Retreat bela negara memberikan kerangka kesadaran baru bagi wartawan SIWO PWI bahwa tugas jurnalistik olahraga adalah bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional non-militer. Pemberitaan yang adil dan mendalam tentang atlet, federasi, dan kebijakan olahraga nasional dapat membangun kepercayaan publik, memacu dukungan negara, sekaligus menjadi kontrol sosial yang konstruktif. Kritik tetap diperlukan, namun disampaikan dalam semangat membangun, bukan menjatuhkan.

Lebih jauh, tantangan wartawan olahraga hari ini tidak ringan. Arus informasi global, kepentingan komersial, hingga perang opini di media sosial kerap mengaburkan substansi prestasi olahraga. Retreat bela negara menjadi pengingat bahwa wartawan harus berdiri tegak pada nilai profesionalisme, nasionalisme, dan etika. Membela negara dalam konteks ini berarti menolak sensasionalisme berlebihan, hoaks, dan framing yang merugikan atlet serta bangsa sendiri.

Dalam mengawal prestasi atlet di level internasional—SEA Games, Asian Games, Olimpiade, hingga kejuaraan dunia—wartawan SIWO PWI dituntut mampu menghadirkan narasi yang memotivasi, mendidik, dan menyatukan publik. Atlet bukan sekadar objek berita, melainkan aset bangsa yang perlu dilindungi secara moral melalui pemberitaan yang manusiawi dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, retreat bela negara bagi wartawan PWI, khususnya SIWO, adalah investasi nilai. Ia menegaskan bahwa medan pengabdian wartawan olahraga bukan hanya stadion dan arena pertandingan, tetapi juga ruang kesadaran publik. Dari sanalah semangat kebangsaan dipupuk, prestasi dihargai, dan Indonesia diperjuangkan—dengan pena, integritas, dan keberpihakan pada kebenaran.